Selasa, 07 Juli 2020

Iman dan Hikmat

 

(Amsal 30:24-28)

Didalam dunia yang semakin sulit ini, hanya orang yang beriman kepada Tuhan saja yang mampu berdiri tegak dalam setiap menghadapi terpaan badai.Sayang sekali masih banyak orang Kristen yang memiliki pemahaman yang kurang tepat, dengan mengatakan : cukup percaya pada Tuhan, maka semuanya menjadi beres.Padahal disamping iman, Tuhanpun mengajar agar kitapun memiliki hikmat.Karena tanpa memiliki hikmat, maka kita akan menjadi mangsa empuk dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin jahat ini.Untuk inilah Tuhan mengajar supaya kita tidak kehilangan hikmat dan kearifan khususnya menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali.

Kita dapat belajar dari sifat 4 hewan yaitu semut, pelanduk, belalang dan cicak.Biinatang hewan itu adalah golongan hewan kecil tapi cekatan.Belajar dari semut .Sifat semut yang berhubungan dengan hikmat adalah rajin, gotong royong, berbagi rezeki, menabung untuk menghadapi musim paceklik/kemarau artinya semut mengenal kekuatan dan kelemahannya dan tidak egois, semut juga mempunyai rencana kerja.Belajar dari pelanduk .Gambaran cekatan pelanduk adalah hewan sejenis tupai / kelinci yang hidup cekatan, ia sadar dirinya lemah karena tidak memiliki kuku untuk mencengkram, maka ia membangun rumahnya dibukit cadas agar musuhnya sulit mencapainya.Demikian juga orang Kristen yang disebut seperti domba yang lemah harus cekatan seperti pelanduk dengan membangun hidup diatas dasar iman yang kokoh.

Belajar dari belalang gambaran tertib.Belalang tidak memiliki pemimpin namun bisa hidup tertib, disiplin dan penguasaan diri.Kita sebagai orang Kristen dapat belajar dari sifat belalang ini, sekiranya kita merasa bahwa Roh Kudus telah dicurahkan dalam hidup kita.Belajar dari cicak gambaran sabar.Cicak adalah hewan yang lemah, namun  memiliki beberapa kelebihan, salah satunya ia bisa berada diistana, dan melihat pembesar-pembesar disana, sedangkan kita belum tentu bisa masuk diistana. Cicak bukanlah hewan yang bisa terbang tetapi ia bisa menyantap hewan yang terbang seperti nyamuk, lalat dan serangga yang lain. Saat ia mengejar buruannya ia bisa begitu tenang , tidak terpancing emosinya, tapi cicak begitu sabar penuh perhitungan.

Beriman dan Berhikmat Memberikan Hidup yang Penuh Sukacita


 


Senin, 06 Juli 2020

Berhikmat dalam Hidup



Mazmur 111:10


Mazmur 111:10 (TB)  Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya. 


    Hikmat dalam Alkitab bisa berarti; pengertian (Ayub 39:17), kebijakan, atau bijaksana (Mazmur 136:5). Hikmat berkaitan dengan pendewasaan dan pengalaman kehidupan yang telah kita lalui. Parameter seseorang berhikmat bukan dilihat dari kepintaran yang dia miliki. Pintar belum tentu berhikmat,  berhikmat sudah pasti pintar. 

    Banyak yang kita temui, karena kepintaran yang seseorang miliki dia menjadi angkuh dan egois. Sikap hati yang salah dapat mampu mengubah hal baik menjadi buruk. Hikmat terletak pada sikap hati (1 Raja-raja 3:9), yang membuat seseorang berpengertian, bijaksana. Hikmat berasal dari Tuhan, istilah hikmat Allah dan hikmat manusia bukanlah menunjukkan dua sumber hikmat, melainkan menunjukkan kedekatan orang yang berhikmat. Orang berhikmat akan  selalu mendekatkan dan memposisikan dirinya kepada takut akan Tuhan.

    Hikmat yang dimiliki setiap dari kita pasti berbeda-beda. Hikmat merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia karena kesetiaan umat manusia kepada Tuhan. Apabila kita ingin menjadi manusia yang berhikmat, dekatkanlah diri kita kepada Tuhan, takutlah akan Dia. Memiliki hikmat artinya kita memiliki akal budi yang baik yang akan membawa kita kepada masa depan yang terbaik. Jadi, dengan hikmat manusia (yang bergantung pada dirinya sendiri), tidak akan mampu mengerti Allah yang adalah sumber hikmat


___________________________________________________________________________________
✨Blog : https://renungankristentlitera.blogspot.com/?m=1
✨ Instagram: https://instagram.com/kristianiteklingitera?igshid=x2u4zsfhe4yp
✨▶️ : Kristiani Teknik Lingkungan ITERA
✨📧 : kristianitlitera7@gmail.com

- Kristiani Teknik Lingkungan ITERA -

Minggu, 05 Juli 2020

Semua karena Iman

2Raja-Raja 25:9

Dalam perjanjian lama, berkali-kali Allah mengingatkan supaya umat pilihan-Nya tetap setia beribadah kepada-Nya. Bahkan kepada Raja Salomo yang telah mendirikan bait Allah yang demkian indah, Allah mengingatkan apabila umat-Nya berbalik dari-Nya dan tidak setia pada peraturan dan ketetapanNya, `Rumah ini akan menjadi reruntuhan, sehingga setiap orang yang lewat akan tertegun...` (1Raj 9:8). Pada akhirnya hal ini benar-benar terjadi, ketika Yerusalem dihancurkan oleh Raja Babel. Rumah Tuhan dibakar.

Tuhan membiarkan hal ini terjadi karena umat-Nya tidak setia dan jatuh dalam penyembahan berhala. Hati mereka tidak lagi berpaut kepada Tuhan. Ibadah yang mereka lakukan berhati palsu. Hal ini sungguh menyakitkan hati Tuhan. Seperti yang dikatakan St. Sirilius dari Alexandria “Dia menemukan manusia dalam kecenderungannya yang merusak menjadi seperti hewan yang binasa, karena itu Dia dibaringkan di palungan, di tempat makanan hewan, supaya kita, dengan mengganti kehidupan hewani, dapat dibawa kepada pengetahuan yang lebih manusiawi, tidak mengambil bagian makanan dari jerami, tetapi dari roti surgawi, dari tubuh yang memberi hidup.”

Tanpa kita sadari, mungkin kita juga sudah jatuh dalam penyembahan berhala dengan mengagung-agungkan kekayaan, kehormatan, kedudukan, dan`yang paling mengerikan`egoisme dan hawa nafsu. Atau mungkin dalam ibadah dan doa-doa kita, kita sudah mengelabui Tuhan dengan upacara yang semarak dan meriah, nyanyian yang indah, tetapi hati kita tidak tertuju kepada Tuhan, melainkan pada mencari pujian dan kesenangan semata. Ingatlah, Tuhan menghendaki hati yang mencintai-Nya dan senantiasa terarah kepada-Nya. Sudahkah kita sungguh-sungguh mengarahkan hati kepada Tuhan?

Tuhan menghendaki hati yang mencintai-Nya dan senantiasa terarah kepada-Nya


Sabtu, 04 Juli 2020

Iman yang Sejati

Ibrani 11:1

Kehidupan Kristiani adalah sebuah perjalanan iman.  Oleh karena itu kita harus membangun iman dari hari ke hari melalui perenungan akan firman Tuhan. Iman yaitu percaya meski belum melihat. Apakah kita tetap percaya kepada Tuhan, meski kita tidak melihat secara langsung?

Tuhan berkata, Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29b). Dasar itulah yang menjadikan orang Kristen percaya dan mengakui bahwa segala sesuatu yang tercipta baik diatas bumi dengan seluruh makhluknya diyakini dan imani bahwa Allah yang menciptakan semuanya. Semuanya dilakukan Allah hanya dengan Firmannya dan semuanya terjadi walaupun tidak dapat kita lihat.

Ujian dalam kehidupan iman akan ada terus menerus sampai kematian jasmani, yang merupakan ujian besar terakhir. Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki iman yang sejati? Iman yang sejati itu lebih dari sekadar menerima dan memahami kebenaran, akan tetapi iman yang sejati melibatkan tindakan nyata.

Orang yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala keadaan. Orang percaya yang memahami kebenaran ini, dan tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia akan tetap memercayai Pribadi Allah walaupun keadaannya tidak memuaskan hatinya. Ia tetap memercayai Tuhan sekalipun doanya tidak dikabulkan Tuhan.

Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi Upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Seberat apapun pergumulan yang ada saat ini, yakinlah dengan iman percaya bahwa  Tuhan adalah jawaban pasti yang dapat menjadikan kita bisa mengatasinya dan melaluinya dengan satu dasar adalah keyakinan di dalam Iman. Iman adalah kepercayaan atau kebersandaran mutlak pada Allah serta kepercayaan yang tidak pernah dapat membayangkan bahwa Dia akan meninggalkan kita.

 

Iman menjadikan kita lebih berkenan kepada Tuhan


Jumat, 03 Juli 2020

Orang Benar Hidup oleh Iman

Roma 1 :17

Sebagai orang Kristen, kita mengenal dan mempercayai tiga hal yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Iman sendiri menjadi hal yang lebih intim mengenai hubungan kita dengan Tuhan. Iman timbul dari ketaatan kita dan membuahkan kebaikan bagi kita sendiri dan sesama. Iman bukan hanya sebatas” aku percaya” atau diterjemahkan sebagai kata berserah gitu aja. Tetapi, iman lebih ke bagaimana kita bisa yakin dalam Tuhan dan selalu mempercayakan perjalanan hidup kita pada Tuhan.

Sederhananya iman itu diibratkan ketika kita naik pesawat terbang. Faktanya kita tidak kenal siapa pilot yang membawa kita. Kita bahkan tidak melihat wajahnya. Tetapi, kita akan tetap tenang dalam pesawat tanpa gentar sedikit pun. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kita harus ragu dengan Tuhan yang bahkan sudah sejak kecil kita kenal. Setiap harinya kita memiliki banyak hal yang harus dikhawatirkan. Seakan-akan Tuhan yang kita percayai itu tidak ada dan hanya sebuah ilusi saja.

Masa depan yang indah menjadi impian semua orang, tetapi hal ini juga yang menjadi sumber ketidakpercayaan dan kebimbangan terbesar manusia. Padahal, burung saja yang tidak menabur dan tidak menuai tapi Tuhan pelihara. Coba kita bayangkan juga apabila hidup di dunia ini kita harus membayar nafas yang kita gunakan. Anggap saja Rp 1 per detik. Sudah dipastikan tidak akan ada yang bisa bertahan hingga detik ini. Tetapi Tuhan berikan dengan cuma-cuma. Apakah saudara masih ragu dengan kuasa Tuhan?. Ingatlah bahwa imanmu yang akan menyelamatkanmu dan menuntunmu kepada mujizat-mujizat yang luar biasa.

Iman akan menyelamatkanmu dan menuntunmu kepada mujizat yang luar biasa

Kristiani Teknik Lingkungan - ITERA


Kamis, 02 Juli 2020

Dengan Iman, Gunung Dapat Berpindah!

Markus 11:22

 

Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah!”

Markus 11:22

 

Tentu kita tidak asing dengan slogan maupun lagu yang berbunyi, “Doa Mengubah Segala Sesuatu”. Sebenarnya bukan doa yang melakukannya, tetapi Allah. Sebagian orang berpikir bahwa doa merupakan sumber kuasa, sehingga mereka “mencoba berdoa”, dan berharap bahwa “doa mereka akan dijawab”.

Dalam Markus 11, Yesus mengungkapkan salah satu rahasia di balik doa yang benar, bukan percaya pada iman, bukan percaya pada doa, namun “percaya kepada Allah” (ayat 22).Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka dapat memerintahkan gunung untuk berpindah ke laut, dan jika mereka percaya bahwa itu akan terjadi, maka itu akan terjadi. Yesus menjelaskan maksud di balik janji-Nya yang mengagumkan itu. Dia berkata,

“Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (ayat 24). Yesus berbicara tentang doa yang dijawab. Kita dapat meminta dan menerima jawaban hanya jika permintaan kita ditujukan kepada Allah di dalam iman dan sesuai dengan kehendak-Nya (1 Yohanes 5:14).

Yesus telah melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: Dia telah memindahkan gunung kekhawatiran, ketakutan, dan kepahitan dari hati kita serta menghancurkannya melalui iman kita di dalam Dia. Dia masih memindahkan gunung! Berimanlah kepada Allah dan teruslah berdoa!

Memiliki Iman Kepada Tuhan Adalah Kunci Bagi Doa Yang Dijawab


Rabu, 01 Juli 2020

Pertolongan Tuhan Melalui Pendewasaan Iman


Habakuk 3 : 17-19

Adakalanya Tuhan izinkan masalah dan penderitaan terjadi dalam kehidupan orang percaya. Itu bukan tanpa tujuan. Itu adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Tuhan hendak melatih iman kita supaya makin teguh.

Salah satu bagian atau bentuk dari masalah ataupun penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi yaitu sebuah tragedi. Tragedi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti kepergian orang terkasih, penyakit, kehilangan harta, atau kehilangan mata pencaharian. Tragedi dapat menimpa siapa pun dan kapan pun.

Ketakutan adalah emosi yang wajar di saat tragedi melanda, tetapi ketakutan tidak harus melumpuhkan kita. Pada saat kita tidak mengerti tentang pencobaan yang sedang kita alami, kita dapat mengingat kembali bagaimana Allah telah bekerja di masa lalu. Itulah yang dilakukan Habakuk. Mengingat karya Allah memang tidak mengenyahkan rasa takutnya, tetapi ia memperoleh keberanian untuk terus melangkah dengan memilih untuk terus memuliakan Tuhan.

Berhadapan dengan situasi demikian, kita harus selalu menaruh iman dan kepercayaan kepada Kristus. Sekalipun dalam keadaan yang kurang baik. Sebab dengan iman, kita mampu melewati berbagai kesulitan, kesusahan, dan memperoleh keselamatan. Iman merupakan kekuatan dasar yang paling solid dibandingkan dengan segala sesuatu. Iman merupakan sumber hidup yang menyegarkan dan menyelamatkan semua orang. Barang siapa percaya dan berpegang teguh pada peraturan-Nya, ia akan memperoleh kebahagiaan abadi.

Iman merupakan kekuatan dasar yang paling solid dibandingkan dengan segala sesuatu

_Kristiani Teknik Lingkungan - ITERA_

BERKAT APA SAJAKA YANG KITA TERIMA SEBAGAI ANAK ALLAH?

 [KRISTIANI TEKNIK LINGKUANGAN ITERA] [SABTU, 20 MEI 2023] BERKAT APA SAJAKA YANG KITA TERIMA SEBAGAI ANAK ALLAH?